Selasa, Juni 9, 2026
BerandaBerita DaerahDi Balik Djuwita Batam Center: Mantan Guru Ungkap Dugaan Sistem Internal yang...

Di Balik Djuwita Batam Center: Mantan Guru Ungkap Dugaan Sistem Internal yang Tak Banyak Diketahui Publik

BATAM – Seorang mantan guru di Sekolah Djuwita Batam Center mengungkap sejumlah dugaan praktik internal yang disebut berlangsung tertutup dan berbeda dari ketentuan yang lazim diterapkan di lingkungan pendidikan formal. Pengakuan tersebut mencakup aspek pengelolaan sekolah, sistem ketenagakerjaan, hingga mekanisme penilaian akademik siswa.

Dalam keterangannya kepada media, Minggu (7/6/2026), mantan pendidik yang meminta identitasnya dirahasiakan itu menyebut sekolah yang berada di bawah naungan yayasan berpusat di Medan tersebut menjalankan sistem operasional yang relatif mandiri dan minim campur tangan pihak luar.

Salah satu hal yang disorot adalah kebijakan sekolah yang tidak menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Menurut sumber tersebut, keputusan itu diambil agar sekolah dapat menjalankan sistem pendidikan secara independen tanpa terikat sejumlah ketentuan yang berlaku bagi lembaga penerima bantuan pemerintah.

“Dulu mereka menolak dana BOS agar tidak diatur oleh Dinas Pendidikan. Mereka memiliki sistem sendiri,” ujar sumber tersebut.

Selain persoalan tata kelola, sumber juga menyoroti sistem ketenagakerjaan yang diterapkan sekolah. Ia mengklaim sebagian besar guru direkrut dengan status kontrak yang diperpanjang secara berkala, sementara kesempatan menjadi pegawai tetap hanya diberikan kepada tenaga pengajar yang telah mengabdi dalam jangka waktu panjang.

Ia juga menyebut adanya kebijakan penahanan ijazah asli guru sebagai salah satu syarat administrasi selama masa kerja.
Menurutnya, tugas guru di sekolah tersebut tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar. Para tenaga pendidik disebut turut mendampingi berbagai aktivitas siswa sehari-hari, mulai dari waktu makan hingga kegiatan ekstrakurikuler.

“Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi berbagai aktivitas siswa setiap hari,” katanya.

Sumber tersebut juga menyoroti sistem penilaian akademik yang diterapkan sekolah. Ia mengklaim Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang digunakan tergolong tinggi, yakni berkisar antara 85 hingga 90.

Namun demikian, ia menuding nilai tersebut tetap harus dicapai siswa meskipun kemampuan akademiknya dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, kondisi itu diduga dilakukan untuk menjaga kepuasan orang tua siswa yang telah membayar biaya pendidikan dalam jumlah besar.

Meski begitu, tudingan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga saat ini belum terdapat dokumen maupun keterangan resmi yang dapat memastikan kebenaran klaim tersebut.

Di sisi lain, sumber mengakui kemampuan bahasa Inggris merupakan salah satu keunggulan utama para siswa. Namun, ia mempertanyakan kualitas capaian akademik pada aspek lainnya yang menurutnya perlu dievaluasi secara objektif.

Hingga berita ini ditulis, pihak manajemen Sekolah Djuwita Batam maupun Dinas Pendidikan Kota Batam belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai dugaan yang disampaikan mantan guru tersebut. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dan klarifikasi dari seluruh pihak terkait guna memastikan kebenaran informasi yang beredar.

Sesuai prinsip jurnalistik, seluruh dugaan yang dimuat dalam laporan ini merupakan pernyataan narasumber dan masih memerlukan verifikasi serta tanggapan dari pihak-pihak yang disebutkan guna memenuhi asas keberimbangan pemberitaan.

Catatan: Jika akan dipublikasikan, sebaiknya diberikan ruang hak jawab kepada pihak sekolah dan yayasan agar berita memenuhi prinsip cover both sides serta mengurangi risiko sengketa pemberitaan. (sumber: https://bataminsight.com/2026/06/08/eksklusif-mantan-guru-bongkar-sisi-gelap-sekolah-djuwita-batam/).

dinamisnews
dinamisnewshttp://dinamisnews.com
Melihat, Mendengar dan Menganalisa
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments