Batam – Dunia pendidikan di Kota Batam kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, sorotan tertuju pada lingkungan Sekolah Djuwita Prakarsa yang berlokasi di Baloi, Batam Centre, menyusul munculnya dugaan tindakan kekerasan terhadap seorang murid serta insiden yang disebut-sebut bernuansa intimidatif saat orang tua murid berupaya meminta klarifikasi kepada pihak sekolah, Jumat (12/6/2026).
Kasus tersebut semakin menjadi perhatian masyarakat setelah sejumlah potongan video dan informasi terkait peristiwa itu viral di berbagai platform media sosial, khususnya TikTok. Unggahan yang beredar luas telah ditonton ribuan pengguna dan memicu beragam komentar dari warganet yang mempertanyakan transparansi penanganan kasus serta sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah.
Beredarnya rekaman yang diklaim berkaitan dengan peristiwa tersebut juga memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Banyak pihak mendesak agar fakta yang sebenarnya dapat diungkap secara terbuka demi menghindari kesimpangsiuran informasi.
Menurut keterangan orang tua murid yang enggan disebutkan namanya, kejadian bermula ketika anaknya diduga mengalami perlakuan yang dianggap tidak pantas oleh seorang tenaga pendidik. Orang tua tersebut menilai tindakan oknum guru tidak mencerminkan sikap dan etika seorang pendidik yang seharusnya memberikan rasa aman dan perlindungan kepada peserta didik.
“Kami sangat kecewa. Guru seharusnya menjadi teladan dan pelindung bagi anak-anak di sekolah. Namun yang kami temukan justru dugaan perlakuan yang membuat anak kami mengalami ketakutan dan trauma,” ungkap orang tua murid.
Merasa ada kejanggalan atas peristiwa yang dialami anaknya, pihak keluarga kemudian mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan sekaligus meminta agar rekaman CCTV di lokasi kejadian diperlihatkan sebagai bentuk transparansi dan klarifikasi.
Namun, menurut pengakuan keluarga, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Mereka mendapat penjelasan bahwa kamera CCTV di lokasi yang dimaksud belum aktif atau tidak berfungsi saat kejadian berlangsung.
Penjelasan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru. Pasalnya, keberadaan CCTV di lingkungan sekolah selama ini dianggap sebagai salah satu sarana penting untuk mendukung keamanan dan pengawasan, baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Pengamat pendidikan yang dimintai tanggapan menegaskan bahwa setiap laporan dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan wajib ditangani secara serius sesuai ketentuan perlindungan anak dan regulasi pendidikan yang berlaku.
“Apabila terdapat laporan dugaan kekerasan terhadap peserta didik, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah investigasi internal yang objektif, transparan, dan melibatkan seluruh pihak terkait. Hak anak untuk mendapatkan perlindungan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Hingga berita ini disusun, pihak Sekolah Djuwita Prakarsa belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kekerasan terhadap murid maupun beredarnya rekaman yang viral di media sosial. Media masih berupaya memperoleh konfirmasi dan klarifikasi dari pihak sekolah guna menjaga prinsip keberimbangan informasi.
Kasus ini juga memunculkan tuntutan dari berbagai kalangan agar instansi terkait, termasuk Dinas Pendidikan Kota Batam dan lembaga perlindungan anak, segera turun tangan melakukan pendalaman guna memastikan fakta yang sebenarnya serta menjamin perlindungan hak-hak peserta didik.
Seiring viralnya kasus tersebut di TikTok dan platform media sosial lainnya, masyarakat berharap proses penanganan dilakukan secara transparan, profesional, serta mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak sebagai peserta didik yang wajib mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.
Catatan redaksi: Dugaan yang disampaikan dalam berita ini masih memerlukan verifikasi dan klarifikasi dari seluruh pihak terkait. Asas praduga tak bersalah tetap dikedepankan hingga terdapat hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang. (Red).
